Dijadiin Bahan Konten Lucu, Begini Cara Alfamart dan Rosebrand Menanggapinya

January 26, 2018 |
Trend 0 Comment

Belum lama ini, curhatan seorang ibu jadi viral di media sosial. Pasalnya, sang suami katanya nggak pernah mengajak dia keluar rumah, padahal si ibu udah cantik berdandan. Si ibu nggak minta diajak pergi jauh, kok! Diajak ke ‘Alpa’ aja dia udah seneng. Karena dianggap lucu oleh netizen dan jadi viral, akhirnya brand yang disebut-sebut dalam video menanggapinya. Wait, brand apa yang disebut? Berhubung si ibu adalah orang Betawi, Kamu pasti bisa nebak kan. Yup! Alfamart! Cita-cita si ibu sebenernya nggak tinggi-tinggi kan? Tapi dari situ videonya sampai di-repost Alfamart, bahkan dijanjikan akan diberi voucher belanja di minimarket tersebut.

Lucu ya, cara Alfamart menanggapi video viral ini. Selain dia dapat konten kreatif tanpa usaha, dia juga dapat digital conversation. Menang banyak, memang. Tren kayak gini emang lagi cukup banyak ditemukan nih, ketika brand me-repost konten yang konyol dan menarik. Secara konten dan pendekatan humor emang lagi seksi, nggak heran kalo sekarang brand memilih untuk play along instead of sue. Kebayang nggak kalo zaman dulu, pasti creative content creator nggak bisa sebebas itu bawa-bawa brand ke dalam kontennya.

Sebenernya hal ini bisa berarti keuntungan sekaligus boomerang buat content creator. Kok bisa? Gini, Kamu emang dapet pengakuan dan penikmat kontenmu jadi lebih luas, tapi seluas apa, sih? Dan apakah Kamu yakin audiens brand itu adalah audiensmu juga? Jika dilihat negatifnya lagi, konten yang Kamu buat jadi dipakai dengan cuma-cuma oleh brand. 

Kejadian lucu yang baru-baru ini kejadian juga adalah dengan brand Rosebrand, yang notabenenya adalah brand dengan target ibu-ibu. Mereka me-repost sebuah video parodi yang melibatkan produk mereka sekaligus dengan jingle-nya.

Bisa kita lihat kalo Rosebrand bisa mengemas video parodi yang beda banget sama konten biasa mereka. Karena itu audiens bisa tetap menangkap maksud dan mengapresiasi kontennya. Itulah kunci jika ingin memanfaatkan user generated content. Etika juga mesti tetap diperhatikan, jangan sampe nggak minta izin dari content creator meski pun mereka sudah menjadikan konten mereka konsumsi publik. Well, mungkin bisa juga dibilang sang content creator mendapat aset gratis dan menggunakannya tanpa izin, sih. Jadi apakah itu berarti hubungan antara brand dengan netizen dan content creator cukup fair? You be the judge.

0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *