Kebebasan Berkreasi dari Brand untuk Influencers

November 25, 2017 |
Story 0 Comment

Influencer marketing kayaknya jadi strategi yang banyak diimplementasiin para marketer saat ini, coba aja perhatiin timeline akun media sosialmu pasti seliweran endorsement atau product placement yang di-share oleh influencer yang Kamu follow.

Influencer marketing udah terbukti efektif untuk meningkatkan awareness dan engagement, apalagi kalau target audiens influencer yang Kamu ajak kerja sama bener-bener relate sama target dari brand. Facebook, Instagram, dan Twitter juga udah ngasih fitur yang mempermudah proses monitoring influencer marketing-mu.

Meskipun jadi strategi marketing yang lagi ngetren, ada juga masalah yang sering dirasakan influencer, yaitu ruang lingkup yang dirasa terlalu sempit untuk menuangkan kreativitasnya sebagai content creator.

Kegelisahan influencer dalam kebebasan berkreasi sempat disampaikan oleh Blogger Jemimah James Wei di event PR Asia 2017 conference. Disitu dia ngaku, meskipun senang bekerja sama dengan brand yang punya guidelines untuk produksi konten, secara personal dia lebih suka bekerja sama dengan brand yang ngasih kebebasan berkreasi sebagai content creator.

Memang sih, nggak banyak brand yang ngasi kebebasan dalam memproduksi konten untuk content creator. Baik itu di media sosial macam Facebook, Instagram, Twitter, atau Youtube, content creator yang ngedapetin kebebasan berkreasi dalam produksi konten terhitung sedikit.

Beberapa influencer yang udah pernah bekerja sama dengan brand yang memberikan kebebasan berkreasi, kebanyakan terus menjalin hubungan baik untuk terus memasarkan brand tersebut. Hubungan bisnis yang terjalin juga nggak luntur begitu aja setelah brand sebagai klien memercayakan creative direction-nya pada influencer tersebut. Disinilah brand harus mulai memikirkan strategi influencer marketing yang tepat.

Seberapa harus sih brand guidelines diimplementasikan dalam konten yang ada di channel publikasi influencer? Seberapa percayakah brand pada influencer? Apakah brand berani memberikan kebebasan berkreasi sepenuhnya pada influencer? Semua itu sangat penting dipertimbangkan sebagai prioritas utama, sebelum melakukan influencer marketing. Apalagi beberapa influencer sekarang mulai memikirkan otentikasi kontennya di media sosial, meskipun masih ada yang selalu menerima tawaran dari brand apapun.

Kedua konten di atas adalah contoh implementasi influencer marketing dari brand Mister Potato yang bekerja sama dengan Tim2one – Chandra Liow. Bisa dilihat kalo iklannya kreatif, kontennya berkesan, product placement-nya nggak terlalu dipaksakan, dan yang paling penting adalah kontenya memang menunjukkan ciri khas konten Chandra Liow seperti biasanya.

Treatment konten yang khas dari tiap influencer jelas berbeda, itulah yang jadi pertimbangan penting beberapa brand memutuskan bekerja sama dalam mengimplementasikan influencer marketing.

Brand bisa ngedapetin hasil yang maksimal dalam meningkatkan awareness dan engagement kalau bisa ngasih influencer ruang untuk berkreasi. Kalau memberikan batasan yang terlalu banyak, justru malah konten yang dibuat oleh influencer memiliki sedikit engagement karena kesannya terlalu hard-selling. Dalam kondisi tertentu, kalo brand bekerja sama dengan influencer yang cuma ungul dari banyaknya followers dan minim sisi kreatifnya, ada baiknya dikomunikasikan dulu dan kasih guidelines agar influencer marketing-mu nggak sekedar keliatan product placement aja.

Pertimbangan brand dalam membatasi kreativitas influencer dan memberikan guidelines yang terlalu banyak, bisa dibilang untuk menjaga image dari brand itu sendiri. Bahkan masih ada brand yang mengimplementasikan influencer marketing dengan memutuskan untuk tetap membatasi kreativitas semua influencer dengan hanya meng-copy paste-kan materi konten yang harus dirilis dengan alasan agar brand image tidak luntur.

Sebagai pengguna media sosial, pasti banyak yang nggak suka kalau influencer yang di-follow terlalu banyak mengiklankan produk. Pengguna Instagram justru lebih toleran pada branded content influencer yang kreatif, menarik, nggak ‘merusak’ treatment konten sesuai ciri khas influencer tersebut, dan nggak sekedar foto selfie sama produk dari brand aja.

Meskipun nggak ada aturan benar dan salah dalam memutuskan siapa influencer yang pas untuk diajak bekerja sama dengan brand, Kamu harus memahami benar apa dampaknya kalo influencer yang kamu percayai untuk menjalankan influencer marketing-mu mendapatkan batasan dalam berkreasi.

0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *