Kebanyakan Browsing Instagram dan Facebook Berpotensi Menyebabkan Depresi

April 28, 2016 |
Opinion 0 Comment

Semua orang pasti menginginkan hal-hal yang positif dan menarik saja untuk diposting di akun media sosialnya. Karena mereka ingin membagikan momen-momen bahagianya ke khalayak luas lewat internet. Akui saja bahwa kamu pasti lebih senang memposting fotomu dengan pakaian bagus dan makanan lezat bersama teman-temanmu daripada sendirian di rumah dan mengenakan piyama. Hal inilah yang dapat menciptakan kecemburuan dan gangguan pada mental orang yang melihatnya. Kamu pasti pernah merasa cemburu dengan postingan temanmu yang sedang berlibur atau menyantap makanan lezat, terutama saat kamu sedang sendirian dan bosan di rumah.

Penelitian di Amerika Serikat yang disponsori oleh National Institute for Mental Health mengidentifikasi bahwa terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara media social dan depresi dengan anak muda sebagai sampel penelitiannya. Penelitian tersebut menemukan fakta bahwa tingkat depresi tersebut meningkat berdasarkan jumlah waktu yang dihabiskan dan jumlah kunjungan ke platform media social per-Minggunya.

Namun media sosial juga memiliki sisi positifnya sendiri. Media sosial membuat kita mampu tetap berinteraksi dengan kerabat-kerabat jauh yang jarang kita temui secara langsung karena masalah kesibukan dan waktu. Media sosial membuat kita dapat tetap berinteraksi dengan mereka walaupun tidak banyak. Sisi buruknya adalah, terlalu seing bermain media sosial dan melihat keadaan ‘baik’ di luar sana dapat menimbulkan perasaan insecure dan ketidakmampuan. Padahal belum tentu orang-orang yang melakukan update positif tentang hidupnya tidak memiliki masalah yang harus mereka pikirkan.

Hal ini juga dikarenakan manusia mempunyai kebutuhan dasar untuk diakui dan disukai oleh manusia lain,, dan media sosial menjadi semacam kompetisi siapa-siapa yang mendapatkan pengakuan lebih. Dan sudah sifat alami manusia untuk membannding-bandingkan dirinya dengan manusia lain. Walaupun perbaningan tersebut memang dapat memotivasi agar menjadi lebih baik, kenyataannya sebaliknya. Perbandingan tersebut cenderung memperburuk kondisi psikis manusia, terutama apabila manusia itu memang sedang dalam keadaan putus asa dan mudah depresi. Ditambah dengan kebiasaan manusia modern yang segera membuka internet di kala mereka bosan, bermain media sosial semakin menunjukkan bahwa orang lain sedang bersenang-senang ketika mereka sedang bosan atau lelah dengan hidup. Dengan begitu mereka akan segera membandingkannya dengan hidup mereka dan dapat memberikan dampak seperti yang sudah dijelaskan di atas.

0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *