Twitter Berumur 10 Tahun, Ini Kebiasaan Rata-Rata Pengguna di Indonesia Yang Meninggalkannya.

March 22, 2016 |
Creative 0 Comment

Tepat 21 Maret 2016 lalu, Twitter genap menginjak usia 10 tahun. Yang berarti, sudah 10 tahun lamanya Twitter menjadi wadah netizen untuk berinteraksi lewat dunia maya. Untuk memperingatinya, Twitter memancing penggunanya untuk mengenang momen-momen dan arti Twitter untuk mereka lewat hashtag #KarenaTwitter.

Sebelumnya hashtag #RIPTwitter mulai ramai karena platform media sosial yang satu ini mendapat banyak kritik dan mulai kehilangan penggunanya. Salah satu alasannya adalah perubahan algoritma Twitter dan menampilkan fitur-fitur yang tidak diinginkan oleh pengguna seperti iklan video pada posisi teratas linimasa, dan terms & conditions yang tidak menindak tegas profil palsu.

Membuat pengguna merasa memiliki dan mengetahui bahwa platform media sosial yang ia gunakan mendengarkannya sangatlah penting. Alih-alih mengabulkan keinginan pengguna untuk menghadirkan fitur edit, Twitter malah mengabaikan profil palsu dan tidak cepat tanggap terhadap akun yang telah dilaporkan pengguna.

Screen_Shot_2016-03-16_at_7.02.54_PM

Twitter malah berniat menambahkan fitur baru yang akan menghapuskan tirani dari 140 karakter yang sudah merupakan budaya dari komunitas Twitter. Tentu saja keputusan ini menuai pro dan kontra dari penggunanya.

Menanggapi hal tersebut, CEO Twitter Jack Dorsey mengatakan bahwa mereka tidak akan malu membangun dan memberkan fitur-fitur baru Twitter untuk penggunanya demi pengalaman dan kegunaan platform yang lebih baik.

Di Indonesia sendiri sudah mulai banyak pengguna internet yang meninggalkan media sosial yang satu ini. Bisa dilihat dari banyaknya akun-akun teman-teman terdekatmu yang last tweet-nya satu atau dua tahun yang lalu. Berikut adalah kebiasaan dan alasan rata-rata pengguna Indonesia yang telah meninggalkan Twitter serta apa yang terjadi terhadap akun Twitter mereka.

1. Beralih ke platform lain

Seperti yang sudah kita semua ketahui bahwa platform media sosial yang sedang hype di kalangan manusia modern Indonesia adalah Path. Media sosial untuk berbagi momen yang lebih intim dan bersifat rahasia. Yang berarti momen-momen yang dibagikan di Path ditujukan ke teman-teman dekat yang memang sudah kenal, tidak seperti Twitter. Instagram juga merupakan platform yang menjadi tempat bagi pengguna Twitter hijrah karena trend foto dan komunitas Instagram sangatlah kuat. Belum lagi banyak pengguna yang mulai aktif kembali memainkan Facebooknya karena feed yang mulai kembali seru dan lucu-lucuan mengenang masa “suram” pengguna ketika awal-awal bermain Facebook dengan melakukan like dan comment terhadap status-status ajaib (baca: alay) pengguna di awal-awal bermain Facebook.

2. Twitter sebagai news feed

Ini merupakan kebiasaan lain dari pengguna Twitter di Indonesia yang sudah jarang aktif di akunnya, yaitu menggunakan Twitter sebagai wadah mencari informasi. Karena sifat Twitter yang bersifat live, banyak pengguna yang membuka akunnya kembali untuk mencari info-info terbaru tentang berita yang ingin diketahuinya seperti kondisi jalan, bom teroris, demo buruh, dan lain sebagainya.

3. Tempat Menampung Cross Post dari platform lain

Pernahkah kamu melihat update Instagram atau Path di linimasa temanmu? Ya itulah yang disebut cross-post. Banyak pengguna yang mengintegrasi akun Path dan Instagramnya dengan akun Twitternya. Hal ini dilakukan untuk memperoleh reach yang lebih luas. Oleh karena itu, sering ditemukan akun-akun Twitter yang sudah tidak aktif hanya berisi cross post pengguna dari platform lain. Inilah yang dilakukan pengguna terhadap akunnya yang sudah tidak pernah ia gunakan lagi.

Twitter harus menyusun strategi lagi dalam menghadirkan fitur-fitur yang tepat dan diinginkan oleh penggunanya. Kalau tidak, Twitter terancam bisa bernasib sama seperti Friendster; menjadi platform media sosial yang ditinggalkan oleh para penggunanya. Nah menurutmu, fitur apa yang harus ditambahkan oleh Twitter ke dalam platformnya?

0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *