Berpikir Kritis Harganya Gratis

April 18, 2017 |
Business 0 Comment
critical-thinking

Critical Thinking, ilustrasi oleh Alditio.

Critical thinking atau berpikir kritis menjadi sikap yang langka, padahal itulah salah satu hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebut saja diskusi problematika keluarga, menyelesaikan masalah di kantor, maupun memilih satu opsi terbaik dari beberapa pilihan yang kita terima.

Pada era digital seperti sekarang, alur informasi mengalir dengan cepat dan tidak terbendung. Iklan, konten, maupun opini pribadi nyaris tidak bisa dibedakan dan menyebar di media sosial pribadi kita masing-masing. Kita bisa membaca dan menyebarkan berita yang asalnya saja tidak kita ketahui. Namun kita juga bisa mempertanyakan kebenaran tiap berita yang didapat, itupun kebijakan pribadi masing-masing.

Dalam dunia kerja, critical thinking sangat diperlukan untuk proses menentukan keputusan dan menentukan solusi dari masalah. Berpikir kritis memiliki dua aspek yang mendasari, yaitu bukti dan logika. Sedangkan emosi dan memori pribadi bukanlah bagian dari berpikir kritis seperti yang diklaim oleh orang-orang kebanyakan.

Coba, seberapa sering anda mendapati kolega atau bahkan anda sendiri menjawab pertanyaan dengan

“Tadi seingatku sudah kukasih ke dia kok!”

atau

“Nanti aja lah meetingnya, tunggu si manager moodnya bagusan dikit.”

Orang yang mengambil keputusan berlandaskan mood, emosi, atau sekadar melakukan sesuatu berlandaskan ingatan saja cenderung tidak berpikir kritis dan sangat jarang menawarkan solusi dari masalah yang kita miliki. Maka dari itu secara sadar atau tidak, berpikir kritis mampu membuat anda (setidaknya terlihat) memiliki kredibilitas dalam pekerjaan.

Tanpa sadar sudah sangat banyak masalah yang timbul hanya karena kita tidak mempraktikkan berpikir kritis dalam kehidupan pribadi maupun di lingkungan pekerjaan. Sebut saja perbedaan pendapat yang berakhir pada adu argumen tak berkesudahan, malasnya mencari sumber berita dan berujung pada pemberitaan bodong, hingga terbiasa dengan pengambilan keputusan berlandaskan emosi.

Padahal kalau dibiasakan untuk mengedepankan bukti dan logika, seseorang yang mampu berpikir kritis dapat

1. Memahami ide secara jelas.

2. Menentukan pentingnya dan relevansi antara argumen dan ide yang dipaparkan.

3. Mengenali, membangun, dan menilai argumen secara valid.

4. Mengidentifikasi inkonsistensi dan kesalahan dalam penalaran.

5. Memiliki pendekatan masalah dengan cara yang konsisten dan sistematis.

Alangkah baiknya bila kita membiasakan diri untuk melatih nalar, mengedepankan bukti, dan mengasah logika demi meningkatkan tingkat kekritisan dalam berpikir. 

Pikirkan tentang dampak kemampuan berpikir kritis dengan yang terbiasa kita lakukan. Dalam konteksnya organisasi atau tempat kerja, menjadi seorang yang penuh perhatian dalam mendengarkan dan bisa mengidentifikasi hubungan yang mungkin tidak diketahui orang lain, bisa memberikan kita kejelasan logis dalam berpikir secara profesional. Bahkan dalam situasi yang terbilang menegangkan, pemikir kritis dapat mengandalkan logika untuk mengambil keputusan sekalipun.

0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *