Breast Cancer Awareness Month; Ketika Kesadaran akan Penyakit jadi Seksi untuk Brand

October 10, 2017 |
Campaign 0 Comment

Breast Cancer. Baru denger dua kata itu aja udah bisa bikin banyak orang merinding, apalagi kaum perempuan. Di Indonesia, penyakit yang satu ini adalah perenggut nyawa perempuan terbanyak nomor 2, bahkan sempat menempati peringkat wahid pada 2010. Sayangnya, seperti banyak kanker yang lain, yang bikin penyakit ini jadi mematikan adalah telatnya para pasien menyadari dan menangani sebelum kankernya menyebar. Edukasi soal self-exam buat mendeteksi kanker payudara pun banyak disebarluaskan, sampe akhirnya ada bulan khusus buat si kanker ini. Yup, bulan Oktober adalah “Breast Cancer Awareness Month” yang juga diidentikkan dengan warna pink. Kalo Kamu pernah lihat orang-orang pakai peniti dengan pita pink di dada mereka, itu adalah simbol orang tersebut merupakan breast cancer survivor atau pendukung cause ini.

Bukan, gerakan ini tentu aja bukan bentuk glorifikasi penyakit. Tapi lebih supaya orang-orang makin peduli dengan penyakit yang bisa nyerang siapa aja ini, dan supaya lebih peka terhadap kesehatan diri sendiri juga. Karena gerakan nge-pink ini cukup banyak penggerak dan pengikutnya, nggak salah kalo brand juga tap in ke sini. Walau udah jalan selama 30 tahun, gerakan ini baru booming di Indonesia belakangan ini karena pengaruh kesadaran gaya hidup sehat. Imbasnya, dalam sekitar empat tahun terakhir, banyak brand yang ikut mengampanyekan gerakan kesadaran ini dengan gaya mereka sendiri, dan nggak hanya brand perempuan aja lho.

Kalo Kamu mengikuti media sosial Starbucks Indonesia, atau Kamu emang pengunjung tetap gerai kopi yang satu itu, pasti tau kalo Starbucks lagi ngadain kampanye buat speak up for breast cancer. Starbucks Indonesia melakukannya dengan ngeluarin 4 produk baru yang semuanya nge-pink! Ada Pink Macchiato, Raspberry Latte, Pink Blossom Fappuccino, dan Pink Yoghurt Frappuccino.

Dengan hashtag #PinkVoice dan #PinkDrinkChallenge, Starbucks Indonesia ngajak orang-orang untuk bantu menyebarkan awareness soal penyakit ini, dan menyumbangkan 10 persen dari penjualan 4 produk tadi ke Lovepink, organisasi pengumpul para survivor kanker payudara. Mereka juga mengadakan aktivitas kuis dan menggandeng Chelsea Islan sebagai ambassador kampanye ini.

Image result for starbucks indonesia pink

Nah buat yang belum tau, kampanye breast cancer awareness oleh brand kayak gini pertama kali digawangi oleh Evelyn Lauder, Senior Corporate Vice President dari Estee Lauder pada 1993. Mereka juga yang memperkenalkan pita pink sebagai simbol gerakan ini. Nggak heran kalo Estee Lauder juga jadi brand yang konsisten melakukan kampanye ini setiap tahunnya. Karena tahun ini merupakan tahun ke-25 kampanyenya, Estee Lauder melakukan hal spesial dengan membuat simbol pita pink yang disematkan ke produk-produk dari brand yang bernaung di bawah Estee Lauder company, kayak Clinique, Smashbox, Bobbi Brown, dan Estee Lauder sendiri.

Beda dengan Starbucks, tahun ini, Estee Lauder merasa udah lewat masanya untuk gunain kata ‘awareness’. Kali ini, Breast Cancer Campaign berusaha untuk ngilangin kanker payudara dari satu penyakit yang harus kita khawatirkan. Dari kampanye ini, mereka udah berhasil ngumpulin lebih dari USD 70 juta dana buat penanganan kanker payudara, lho!

Kampanye ini emang terkesan female-centric dengan pita pinknya, tapi udah terbukti kan nggak semua brand yang ikutan kampanye ini adalah brand perempuan. Qatar Airways misalnya. Airline tersebut juga mendukung gerakan ini dengan membagikan amenities bernuanasa pink kepada pengguna jasanya, termasuk juga kartu-kartu yang menjelaskan cara-cara buat self-exam. Apollo Tools, brand perkakas yang identik dengan pria juga ngeluarin ‘Apollo 135-Piece Pink Tool Kit’ demi mendukung gerakan ini.

Lucu juga ya, gimana suatu hal yang nyeremin bisa jadi topik kampanye yang seksi buat brand dan dilakukan secara rutin lagi tiap tahunnya. Kampanye secara digital juga memberikan brand kemampuan untuk menyebarkan awareness secara viral. Keterlibatan brand dalam sebuah kampanye bertema kesehatan seperti ini memberikan keuntungan lebih dari sekedar hasil penjualan yaitu terbangunnya brand equity yang solid.

Beberapa penyakit lain juga ada yang se-high profile ini lho, dan dijadikan kampanye juga oleh brand. Hmm, brand-brand apa lagi ya, yang pernah atau bahkan sering mengangkat penyakit sebagai inti kampanyenya? Share di kolom komentar, ya!

0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *